Selasa, 22 Juli 2014

Resume Bimbingan Konseling Islam




BAB I

PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING



Bimbingan dan konseing atau “guidance and counseling” merupakan salah satu progam pendidikan yang diarahkan kepada usaha pembaharuan pendidikan nasional. Jika dilihat ati dan tujuan bimbingan dan konseling secara mendalam, maka jelas urgensi bimbingan dan konseling sangat besar bagi usaha pemantapan arah hidup generasi muda dalam berbagai bidang yang menyangkut ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental dalam masyarakat.

Pengertian dan tujuan dari tujuan dasar bimbingandan konseling diatas tidak mengecualikan bimbingan dan konseling agma menjadi salah satu aspek penting dalam progam pendidikan nasional. Justru karena agama dengan nilai-nilainya yang tepat, akan mampu memberikan bentuk kehidupan bangsa yang mantap dan penuh optimism dalam menghayati lingkungan social kebudayaan dan alam sekitar yang sekaligus meperkokoh berkembangnya identitas serta kebanggan nasional masa kini dan masa mendatang. Motivasi agama tersebut dapat dikembangkan melalui bimbingan dan koseling.



A.    Pengertian Bimbingan

Secara etimologis kata bimbingan merupakan terjemahan dari bahasa Inggris “ guidance”. Kata ‘Guidance” adalah kata dalam bentuk mashdar (kata benda) yang berasal dari kata kerja “to guide” artinya menunjukkan, membimbing, atau menuntun orang lain kejalan yang benar.

Sesuai dengan istilahnya, maka secara umum dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan. Namun, walaupun demikian tidak berarti semua bentuk bantuan atau tuntunan adalah bimbingan.

Pengertian bimbimbangan dan bantuan menurut terminology bimbingan dan konseling harus memnuhi persyaratan tertentu sebagaimana yang dimaksud dengsan pengertian guidance dan konseling. Definisi bimbingan yang pertama dikemukakan dalam Year’s Book of Education 1955, yang menyatakan :

Guidance is a process of helping individual trough their own effort to discover and develop their potentialities both for personal happiness and social usefulness.

Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalaui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan social.

Dari pendapat tersebut dapat disimpukan bahwa bimbimbingan adalah bantuan yang diberikan secara sistematis kepada seseorang atau masyarakat aghar mereka memperkembangkan potensi-potensi yang dimilikinya sendiri dalam upaya mengatasi berbagai masalah, sehingga mereka dapat menentukan sendiri jalan hidupnya secara bertanggung jawab tanpa harus bergantung kepada orang lain, dan bantuan itu dilakukan secara terus menerus.



B.     Pengertian Koseling

Istilah konseling berasal dari kata “counseling” adalah kata dalam bentuk masdhar dari “to counsel” secara etimologis berarti “ to give advice” atau member saran dan nasihat. Konseling juga memiliki arti memberikan nasihat, atau member anjuran kepada orang lain secara jtatap muka (face to face). Jadi, counseling berarti pemberian nasihat atau penasihati kepada orang lain secara individual yang dilakukan dengan tatap muka (face to face). Pengertian konseling dalam bahasa Indonesia, juga dikenal dengan istilah penyuluhan.

Adapun pengertian counseling atau penyuluhan sebagaimana yang berlaku di lingkungan sekolah dan masyarakat memiliki pengertian yang lebih luas dan beragam.

Menurut A. Edward Hoffman, konseling adalah

Face to face meeting of thr counselor and coun selee. Within the guidance service, counseling may be thought of as the core af the helping process, essential for the proper administration of assistance to students as they attempt to solve their problems. Howover counsoling cannot be adequate unless it is buit upon a superstructure of preparation.

Perjumpaan secara berhadapan muka anatara konselor dengan konseli atau orang yang disuluh sedang di dalam pelayanan bimbngan. Konseling dapat dianggap sebagai intinya proses pemberian pertolongan yang esensial bagi usaha pemberian batuan kepada murid pada saat mereka berusaha memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. Namun demekian konseling tidak dapat memadai bilamana hal tersebut tidak dibentuk atas dasar persispan yang tersusun dalam struktur organisasi. Maka antara bimbingan dan konseling tampak tidak dapat dipisahkan.

Konseling adalaah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara, atau dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidup. Dalam memecahkan permasalahannya ini individu memecahkannya dengan kemampuannya sendiri. Dengan demikian, klien tetap dalam keadaan aktif, memupuk kesanggupannya did ala, memecahkan setiap permasalahan yang memungkinkan dihadapi di dalam kehidupannya.

Apabila diteliti antara pengertian bimbingan dan pengertian konseling, akan didapatai adanya persamaan di samping adanya sifat-sifat yang khas pada konseling itui. Hal ini dapat dikemukaan sebagai berikut :

1.      Koseling merupkakan salah satu metode dari bimbingan. Dengan demikian, pengertian bimbingan lebih luas dari pada pengertian konseling. Karena itu konseling merupakan “guidance”, tetapi tidak semua bentuk “guidance” merupakan konseling.

2.      Pada konseling telah ditemukan adanya masalah tertantu, yaitu masalah yang dihadapi oleh klien. Sedangkan pada bimbingan tidak demikian halnya. Pada bimbingan lebih bersifat kuratif atau korektif. Bimbingan dapat diberikan sekalipun tidak ada masalah. Keadaan ini tidak berarti bahwa pada bimbiungan sama sekali tidak didapati segi kuratif, dan sebaliknya pada konseling tidak adanya segi yang preventif. Dalam konseling kita juga mendapati segi yang preventif dalam arti menjaga atau mencegah hangan sampai timbul masalah ytang lebih mendalam.

3.      Konseling pada prinsipnya dijalankan secara individual, yaitu antara koselor dengan klien secara “face to face”. Sedangkan pada bimbuingan tidak demikian, hanya bilamana bimbingan dijalankan secara “group” atau kelompok. Misalnya, bimbingan bagaimana caranya belajar yang efesien dapat diberikan kepada seluruh kelas pada suatu waktu yang tertentu secara bersama-sama.




BAB II

PENGERTIAN BIMBINGAN DAN KONSELING AGAMA



A.    Bimbingan dan Konseling Agama

Jika dilihat dari segi perkembangan sejarah agama-agama besar di dunia, bimbingan dan konseling agama sebenarnya telah dilakukan oleh para nabi dan rasul, sahabat nabi, para ulama, pendeta, rahib, dan juga para qpendidik di lingkungan masyarakat dari zaman ke zaman.

Dalam masyarakat islam telah dikenal prinsip-prinsip guidance and counseling yang bersumber dari firman Allah serta hadist Nabi. Diantara dasar-dasar bimbingan dan konseling dalam al-qur’an dan hadist nabi adalah sebagai berikut :

äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ  

Artinya : serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

ãAÍit\çRur z`ÏB Èb#uäöà)ø9$# $tB uqèd Öä!$xÿÏ© ×puH÷quur tûüÏZÏB÷sßJù=Ïj9   Ÿwur ߃Ìtƒ tûüÏJÎ=»©à9$# žwÎ) #Y$|¡yz ÇÑËÈ  

Artinya : dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.

Menurut Drs. H.M. Arifin, M.Ed., bimbingan dan penyuluhan agama adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan-kesulitan rohaniah dalam lingkungan hidupnya agar orang tersebut mampu mengatasinya sendiri karena timbul kesadaran dan penyerahan diri terhadap kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga timbul pada diri pribadinya suatu cahaya harapan kebahagianan hidup masa sekarang dan masa depannya.

Adapun inti pelaksanaan guidance and counseling agama tersbut adalah penjiwaan agama dalam pribadi si terbimbing atau si tersuluh sehubung dengan usaha pemecahan problem dalam kegiatan lapangan hidup yang dipilihnya. Ia dibimbing sesuai dengan perkembangan sikap dan perasaan keagamaannya sesuai dengan tingkat dan situasi kehidupan psikologisnya. Menurut Eduard Spranger, lapangan hidup manusia ada enam macam, yaitu sebagai berikut :

1.      Lapangan hidup yang berhubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan

2.      Lapangan hidup yang menyangkut kesenian dan seni budaya

3.      Lapangan hidup yang menyangkut ekonomi dan pekerjaan praktis

4.      Lapangan hidup yang menyangkut keagamaan

5.      Lapangan hidup yang menyangkut kemasyarakatan

6.      Lapangan hidup yang menyangkut politik atau managerial.

Individu-individu yang memiliki lapangan hidup tersebut di atas memiliki tujuan hidup masing-masing, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya sehingga goal seeking (usaha mencapai tujuan) bagi masing-masing orang juga berbeda. Oleh karena itu diperlukan pendekatan ddari sudut tujuan hidup masing- masing.

B.     Bimbingan Konseling Islami.

Bimbingan konselilng islmai adalah proses pemberian bantuan terarah, kontinu dan sisrematis kepada setiap individu agar ia dapat mengembangkan potensi atau fitrah beragaman yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yanbg terkandung di dalam Alquran dan hadis rasulullah kedalam dirinya, sehingga ia dapat hidup selaras dan sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadis.

Dengan demikian, bimbingan di bidang agama islam merupakan kegiatan dari dakwah islamiah. Karena dakwah yang terarah ialah memberikan bimbingan kepada umat islam untuk betul-betul mencapai dan melaksanakan keseimbangan hidup fid dunya wal akhirah.

Pembimbingan adalah tindakan pimpinan yang dapat menjamin terlaksananya tugas-tugas dakwah sesuai dengan rencana, kebijaksanaan dan ketentuan-ketentuan lain yang telah digariskan. Sehingga apa yang menjadi tujuan dan sasaran dakwah dapat dicapai dengan sebaik-baiknya.

Hubungan yang baik antara klien dengan Allah, sesame manusia dan lingkungannya, konselor bias secara perlahan melepaskan hubungannya dengan klien tersebut sehingga klien mampu membina hubungannya dengan klien tersebut sehingga klien mampu membina hubungan yang baik dengan Allah, dengan sesame manusia maupun dengan lingkungannya dengan sendirinya. Pada saat iniu pada diri klien telah tercipta hablun minallah dan hablun minannas secara baik, sebagai makhluk Allah.

Dalam hal ini yang menjadi klien dari bimbingan dan konseling islami adalah setiap individu mulai dari lahrnya sehingga terinternalisasikan norma-norma yang terkandung dalam Alquran dan hadis dalam setiap perilaku dan sikap hidupnya, serta individu yang mengalami penyimpangan dalam perkembangan fitrah beragama yang dimilikinya.




BAB III

PERKEMBANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING



A.    Sejarah Munculnya Bimbingan Dan Konseling

Bimbingan dan konseling (guidance and counseling) sebagai disiplin ilmu berkembang sejak permulaan abad ke-20 M. tepatnya pada tahun 1908-1909 dimana merupakan periode diletakkan oleh beberapa ahli ilmu jiwa dan pendidikan.

Adapun bimbingan modern didasarkan pada landasan-landasa teoritis baru mulai dilaksanakan pada tahun 1909 oleh Wiliam Healy, yang kemudian dikenal sebagai pelopor gerakan bimbingan kanak-kanak. Pada saat itu, Healy yang bekerja pada pengabdian kanak-kanak dan menaruh minat besar dalam penelitian bidang ini mendirikan dan mengelola “Chiacago Juvenile Psychopatic Institute” di Chicago, Illinois.

Menurut Drs. H.M. Arifin, M.Ed., pada masa awal kemunculan bimbingan dan konseling, terjadi tiga gerakan yang masing-masing mempunyai arah perkembangannya sendiri, yaitu sebagai berikut :

1.      Gerakan yang berusaha memanfaatkan pengukuran psikologis tentang kemampuan mental anak untuk dipergunakan sebagai dasar pengertian dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.

2.      Mental Hygiene (kesehatan jiwa) adalah juga termasuk salah satu gerakan yang mempengaruhi perkembangan bimbingan dan konseling. Dikarenakan sasaran bimbingan memang banyak menyangkut problem yang bersumber pada kesehatan jiwa.

3.      Vocational Guidance, yaitu suatu bimbingan yang menitikberatkan bantuan kepada terbimbing dalam jabatan atau pekerjaan sekarang dan yang akan dating menurut kemampuan masing-masing.

Adapun rintisan bimbingan dan konseling agama yang ditujukan kepada hidup beragama secara formal dan ilmiah, yang dilakukan oleh para ahli bimbingan, baru tampak dinulai sejak perang Dunia II. Difungsikan juru penerangan agama atau pendeta dikalangan angkatan bersenjata tertama di Negara Anglo Saxon seperti Amerika Serikat.

Perkembangan guidance and counseling dari jarak diletakkannya dasar-dasar ilmiahnya sampai dengan masa kini, menunjukkannya dasart-dasar ilmiahnya sampai dengan masa kini, menujukkan tendensi kearah perluasan sesuai dengan kebutuhan manusia dalam kehidupan mental dan fisil, dalam rangka menciptaan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Oleh karena itu ruang lingkupnya seluas dan sedalam tuntunan hidup yang semakin meningkat ( rising demands) dalam masyarakat itu sendiri, sehingga dalam pelaksanaannya dibutuhkan pelbagai ilmu pengetahuan yang relevan dengan pendekatannya yang multi dimensional.

B.     Bimbingan Dan Konseling Di Indonesia

Ditinjau dari segi historis perkembangan ilmu bimbingan dan konseling di Indonesia, sebenarnya istilah bimbingan dan konsleing pada awalnya dikenal dengan istilah bimbingan dan penyuluhan yang merupakan terjemahan dari istilah guidance and counseling.

Dalam perkembangan bahasa Indonesia selanjutnya pada tahun 1970, sebagai awal dari masa pembangunan Orde Baru, istilah penyuluhan merupakan terjemah dari kata counseling dan mempunyai konotasi psychological-counseling, banyak pula digunakan dalam bidang-bidang lain, seperti penyuluhan pertanian, penyuluhan keluarga berencana, penyuluhan gizi, penyuluhan huku, penyuluhan agama dan sebagainya, yang cendrung diartikan sebagai pemberian penerangan atau informasi, bahkan kadang-kadang hanya dalam bentuk pemberian ceramah atau pemutran film.

Menyadari perkembangan pemakaian istilah tersebut, para ahli bimbingan dan penyuluhan Indonesia yang tergabung organisasi profesi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) mulai meragukan ketepatan penggunaan istilah penyuluhan sebagai terjemah dari istilah konseling. Oleh karena itu, sebagian dari mereka berpendapat, sebaiknya istilah penyuluhan dikembalikan ke istilah aslinya saja, yaitu konseling, sehingga pada saat ini dipopulerkan istilah bimbingan dan konseling untuk ilmu ini, bukan bimbingan dan penyuluhan.




BAB IV

TUJUAN DAN FUNGSI BIMBINGAN DAN KONSELING



A.    Tujuan Bimbingan Dan Konseling

Bimbingan berarti memberikan bantuan kepada seseorang ataupun kepada sekelompok orang dalam menentukan berbagai pilihan secara bijaksana dan dalam menentukan penyesuaian diri terhadap tuntunan-tutunan hidup.

Secara umum dan luas, progam bimbingan dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut.

1.      Membantu individu dalam mencapai kebahagiaan hidup pribadi

2.      Membantu individu dalam mencapai kehidupan yang efektif dan produktif dalam masyarakat

3.      Membantu invividu dalam mencapai hidup bersama dengan indiviu-individu yang lain.

4.      Membantu individu dalam mencapaiharmoni antara cita-cita dan kemampuan yang dimilikinya.

Bimbingan dapat dikatakan berhasil apabila individu yang mendapatkan bimbingan itu berhasil mencapai keempat tujuan tersebut secara bersama-sama.

Bimbingan dan penyuluhan agama dimaksudkan untuk membnatu si terbimbing supaya memiliki religious reference (sumber pegangan keagamaan) dalam memecahkan problem. Bimbingan dan penyuluhan agama yang ditujukan kepada membantu si terbimbing agar dengan kesadaran serta kemampuannya bersedia mengamalkan ajaran agamanya.

Tujuan bimbingan dan konseling agama juga menjadi tujuan dakwah Islam. Karena dakwah yang terarah adalah memberikan bimbingan kepada umat Islam untuk betul-betul mencapai dan melaksanakan keseimbanganhidup dunia dan akhirat. Dengan demikian, bimbingan dan konseling agama islam adalah bagian dari dakwah Islam. Demikian pula tujuan bimbingan dan konseling juga merupakan tujuan dari dakwah Islam.

Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, dimaksudkan agar klien atau peserta didik mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut. Sebagai manusia yang normal, didalam setiap diri individu selain memiliki hal-hal yang positif tentu juga memiliki hal-hal yang negative. Pribadi yang sehat yaitu apabila ia mampu menerima dirinya sebagaimana adanya, dan mampu mewujudkan hal-hal positif sehubungan dengan penerimaan dirinya itu. Denikian juga jika menemukan dan ruhani yang kurang menguntungkan hendaknya tidak menjadi alas an untuk bersedih hati, mearasa rendah diri, dan sebagainya.

Bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan dimaksudkan agar peserta didik mampu mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang mas depannya sendiri, baik yang menyangkut bidang pendidikan, karier maupun bidang budaya, keluarga, dan masyarakat.melalui perencanaan masa depan ini individu diharapkan mampu mewujudkan sirinya sendiri dengan bakat, minat, intelegensi, dan kemungkinan-kemungkinan yang dimilikinya.

B.     Fungsi Bimbingan Dan Konseling

Secara terotikal fungsibimbangan dan konseling secara umum adalah sebagai fasilitator dan motivator kliwn dalam upaya mengatasi dan memecahkan problem kehidupan klien dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri. Fungsi ini dapat dijabarkan dalam tugas kegiatan yang bersifat preventif (pencegahan) terhadap segala macam ganguan mental, spiritual dan environmental (lingkungan) yang menghambat, mengancam, atau menantang proses perkembangan hidup klien.

Dalam hubungan ini bimbigan dan koseling berfungsi sebagai pemberi layanan kepada peserta didik agar masing-masing peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi yang utuh dan mandiri. Fungsi-fungsi tersebut adalah fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi pengentasan, fungsi pemeliharaan dan pengembangan, dan fungsi advokasi.

1.      Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik.

2.      Fungsi pencegahan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan mengahasilkan tercegahnya atau terhindatnya peserta didik dari berbagai permaslahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan, kerugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangan.

3.      Fungsi pengentasan istilah fungsi ini digunakan sebagai pengganti istilah fungsi kuratatif atau fungsi terapeutik dengan arti pengobatan atau penyembuhan.

4.      Fungsi pemeliharaan dan pengembagan adalah fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangnya beberapa potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara terarah, mantap, dan berkelanjutan.

5.      Fungsi Advokasi yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pembelaan (advokasi) terhadap peserta didik dalam ranka upaya pengambangan seluruhh potensi secara optimal.

Fungsi utama bimbingn dan koseling dalam islam yang hubungannya dengan kejiwaan tidak dapat terpisahkan dengan masalah-masalah spiritual (keyakinan). Islam memberikan bimbingan kepada individu agar dapat kembali pada bimbingan Alquran dan A-Sunnah. Seperti individu yang memiliki sikap selalu berprasangka buruk kepada tuhannya dan menganggap Tuhannya tidak adil, sehingga ia merasa susah dan menderita dalam kehidupannya. Sehingga ia cenderung menjadi pemaranh dan akhirnya akan merugikan dirinya sendiri dan lingkungannya.




BAB V

BENTUK-BENTUK BIMBINGAN DAN KONSELING



A.    Bentuk-bentuk Bimbingan Dan Konseling

Pelayanan bimbingan dan konseling ditunjukan untuk  membantu klien atau anak bombing untuk mengatasi problematikannya dalam berbagai bidang yang dihadapinya. Pelayanan bimbingan dan konseling sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia yang semakin kompleks, maka bimb ingan dan konselingpun berkembang sesuai kehidupan masyarakat.

Jika dilihat dari segi bidangnya, bimbingan dan konseling dapat dibedakan menjadi beberapa macam.

1.      Vocational Guidance

Vocational Guidance yaitu bimbingan dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan/profesi, dalam mempersiapkan diri untuk memasuki lapangan tersebut dan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dalam bidang pekerjaan tertentu.

2.      Educational Guidance

Educational guidance ialah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, mengatasi kesukaran dalam belajar dan juga memilih jebis/jurusan sekolah lanjutan yang sesuai.

3.      Personal-Social Guidance

Personal-Social Guidance ialah bimbingan dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan dalam diri sendiri; apabila kesulitan tertentu berlangsung terus dan tidak mendapatkan penyelesaiannya, terancamlah kabahagian hidup dan akan timbul gangguan-gangguan mental.

4.      Mental Health Guidance

Mental Health Guidance (bimbingan dalam bidang kesehatan jiwa) yaitu suatu bimbingan yang bertujuan untuk menghilangkan factor-faktor yang menimbulkan gangguan jiwa klien. Sehingga ia akan memperoleh ketenangan hidup ruhaniah yang sewajarnya seperti yang diharapkan.

5.      Religious Guidance

Religious Guidance (bimbingan keagamaan) yaitu bimbingan dalam rangka membantu pemecahan problem seseorang dalam kaitannya dengan masalah-masalah keagamaan, melalui keimanan menurut agamanya.

B.     Bidang-bidang Bimb ingan Dan Koseling

Pelayanan bimb ingan dan konseling-khusunya disekolah merupakan kegiatan yang sistematis, terarah, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pelayanan bimbingan dan konseling selalu memperhatikan karakteristik tujuan pendidikan, kurikulum dan peserta didik.

1.      Bidang Bimbingan Pribadi

Dalam bidang bimbingan pribadi, pelayanan bimbingan dan konseling membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta jasmani dan ruhani.

2.      Bidang Bimbingan Sosial

Dalam bidang bimbingan social, pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah berusaha membantu peserta didik mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya yan g dilandasi budi pekerti, tanggung jawab masyarakat dan kenegaraan.

3.      Bidang bimbingan belajar

Dalam bidang bimbingan belajar, pelayanan bimbingan dan konseling membantu peserta didik untuk menumbuhkan dan mengamalkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian sertra mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi atau untuk terjun ke lapangan pekerjaan tertentu.

4.      Bidang Bimbingan Karier

Dalam bidang bimbingan karier ini, pelayanan bimbingan dan konseling ditujukan untuk mengenal potensi diri, mengembangkan dan memantapkan pilihan karier.

C.     Ragam Bimbingan Menurut Masalah

Menurut Dr. Syamsu Yusuf, L.N dan Dr. Juntika Nurihsan, bahwa dilihat dari masalah individu, ada empat jenis bimbingan yaitu :

1.      Bimbingan AKademik

Bimbingan akademik yaitu bimbingan yang diarahkan untuk memnatau para individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah- masalah akademik. Adapun yang tergolong masalah-masalah akademik yaitu pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan/ kosentrasi, cara belajar, penyelesaian tugas-tugas dan latihan dan lain sebagainya.

2.      Bimbingan Sosial-Pribadi

Bimbingan social-pribadi merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam memcahkan masalah-maslah social-pribadi.

Yang tergolong dalam maslah-masalah social pribadi adalah masalah hubungan dengan sesame teman, dengan dosen serta staf, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal, dan penyelesaian konflik.

3.      Bimbingan Karier

Bimbingan Karier yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan, pengembangan dan pemecahan berbagai masalah karier seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karier, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalah-maslah karier yanmg dihadapi.

4.      Bimbingan Keluarga

Bimbingan keluarga merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai pemimpin atau anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri dengan norma keluarga, serta berperan aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.




BAB IV

TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING YANG DAPAT DITERPKAN DALAM KEAGAMAAN



Bimbingan dan konseling agama dapat dilaksanakan oleh pembimbing dan konselor agama secara in clued sebagai pendidik. Sebagai pendidik, pembimbing dan konselor dapat mengarahkan klien untuk membangkitkan semangat dan motivasi sehingga masalah dalam kehidupan, dalam hal ini problematika agamanya, akan dapat teratasi dank lien akan memiliki semangan dalam menjalani kehidupannya.

A.    Metode Bimbingan Agama

1.      Metode Interview (Wawancara)

Interview (wawancara) informasi merupakan suatu alat untuk memperoleh fakta/data/informasi dari murid secara lisan, jadi terjadi pertemuan dibawah empat mata dengan tujuan mendapatkan data yang diperlukan untuk bimbingan.

2.      Group Guidance (Bimbingan Kelompok)

Dengan menggunakan kelompok, pembimbing dan konseling akan dapat mengembangkan sikap social, sikap memahami peranan anak bombing dalam lingkungnya menurut penglihatan orang lain dalam kelompok itu (role reception) karena ia ingin mendapat pandangan baru tentang dirinya dari orang lain serta hubungannya dengan orang lain.

3.      Client Centered Method (Metode yang Dipusatkan pada Keadaan Klian)

Metode ini sering juga disebut nondirective (tidak mengarah). Dalam metode ini terdpat dasar pandangan bahwa klien sebagai makhluk yang bulat yang memiliki kemampuan berkembang sendiri dan sebagai pencari kemantapan diri sendiri (self consistency).

4.      Directive Counseling

Directive Counseling sebenarnya merupakan bentuk psikoterapi yang paling sederhana, karena konselor, atas dasar metode ini, secara langsung memberikan jawaban-jawaban terhadap problem yang oleh klien disadari menjadi sumber kecemasannya. Metode ini tidak hanya dipergunakan oleh para counselor, melainkan juga digunakan oleh para guru, dokter, social worker, ahli hokum, dan sebagainya. Dengan mengetahui keadaan masing-masing klien tersebut, konselor dapat memberikan bantuan pemecahan problem yag dihadapi.

5.      Eductive Method (metode pencerahan)

Metode ini sebenarnya hamper sama dengan metode (client-centered diatas, hanya bedanya terletak pada usaha mengorek sumber perasaan yang menjadi beban tekanan batin klien serta mengaktifkan kekuatan/tenaga kejiwaan klien (potensi dinamis) melalui pengertian tentang realitas situasi yang dialami olehnya. Oleh karena itu, inti dari metode ini adalah pemberian “insight” dan klarifikasi (pencerahan) terhadap unsure-unsur kejiwaan yang menjadi sumber konflik seseorang.

6.      Psychoanalysis Method

Metode Psikoanalisis (Psychoanalysis Method) juga terkenal didalam konseling yang mula-mula diciptakan oleh Sigmund Freud. Metode ini berpangkal pada pandangan bahwa semua manusia itu jika pikiran dan perasaannya tertekan oleh kesadaran dan perasaan atau motif-motif tertekan tersebut tetap masih aktif mempengaruhi segala tingkah lakunya meskipun mengendap didalam alam ketidaksadaran (Das Es) yang disebutnya “Verdrongen Complexen”

B.     Metode Konseling Agama

Metode konseling menunjukkan pada approach konselor membantu anak bombing menjalani proses konseling, antara lain apakah koselor menyalurkan pembicaraan kearah tertentu atau tidak, apakah konselor memberikan petunjuk mengenai apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak, apakah konselor memberikan pengarahan kepada murid dalam caranya berpikir atau tidak.

Saat ini banyak dikenal metode konseling, khususnya dalam aktivitas konseling agama. Namun setidak-tidaknya ada tiga metod yang bias dilakukan dalam kegiatan konseling.

1.      Nondirective Method

Metode ini sebenarnya bersumber pada beberapa keyakinan dasar tentang manusia, antara lain bahwa manusia berhak menentukan haluan hidupnya sendiri, bahwa manusia memiliki daya yang kuat untuk mengembangkan diri ; manusia pada hakikatnya bertanggung jawab atas tindakannya sendiri; manusia bertindak berdasarkan pandangan-pandangan subjektif terhadap dirinya sendiri (konsep diri) dan terhadap dunia di sekitarnya.

2.      Directive Method

Metode iuni adalah metode dimana konselor membantu konseli dalam mengatasi masalahnya dengan menggali daya beripikir mereka, tingkah laku yang barangkali terlalu berdasarkan perasaan dan dorongan impulsive harus diganti dengan tingkah laku yang lebih rasional. Konselor menyumbangkan pengalaman dan keahliannya dalam ilmu psikologi dan penggunaan beberapa tes selama proses konseling, supaya konseli sampai pada suatu pemecahan yang dapat dipertanggung jawabkan secara rasional.

3.      Metode Eklektif

Metode eklektif yaitu metode yang sedikit banyak merupakan penggabungan unsure-unsur dari directive method dan nondirective method. Konselor di sekolah pada umumnya mengadakan penggabungan dengan cara: pada permulaan proses konseling lebih cenderung ke nondirective method dengan menekankan keleluasaan bagi konseli untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, dan setelah itu mengambil peranan lebih aktif dalam menyalurkan arus pemikiran konseli. Penggunaan metode ini menuntut fleksibilitas tinggi pada konselor untuk menyesuaikan diri dengan masing-masing konseli, terhadap konseli yang lain ia lebih direktif.

Pada sisi lain, pada dasarnya metode konseling agama dapat dikelmpokkan kedalam dua bagian, yaitu sebagai berikut:

a.       Konseling yang bersifat verbal

Joseling yang bersifat verbal yaitu berupa tanggapan apapun yang diberikan secara verbal oleh konselor, yang merupakan perwujudan konkret dari maksud, pikiran, dan perasaan yang tervebtuk dalam batin konselor untuk membantu konseling pada saat-saat tertentu.

b.      Konseling yang bersifat Nonverbal

Konseling yang bersifat nonverbal yaitu teknik yang lebih menonjilkan sikap dari konselor, seperti senyuman, cara duduk, anggukan kepala, gerak-gerik tangan, berdiam diri, mimic atau ekspresi wajah, pandangan mata, variasi nada suara, dan sentuhan.

Adapun dalam melakukan konseling agama, bias diterapkan beberapa metode, yaitu sebagai berikut :

1.      Metode yang bersifat lahir

Metode yang bersifat lahir ini menggunakan alat yang dapat dilihat, didengar atau dirasakan oleh klien, yaitu dengan menggunakan tangan dan lisan.

Dlam menggunakan tangan tersirat beberapa makna, antara lain :

a.       Dengan menggunakan kekuatan, power, dan otoritas

b.      Keinginan, kesungguhan, dan usaha yang keras

c.       Sentuhan tangan

Dengan menggunkan lisan dapat dilakukan antara lain hal-hal berikut:

a.       Membaca atau berdo’a dengan menggunakan lisan

b.      Sesuatu yang dekatr dengan lisan, yakni dengan air ludah atau hembusan (tiupan)

2.      Teknik yang bersifat batin

Teknik yang bersifat batin yaitu teknik yang hanya dilakukan dalam hati dengan do’a dan harapan, namum tidak ada usha dan upaya yang keras secara kokret, seperti dengan menggunkan poteni tangan dan lisan.

Teknik konseling yang ideal adalah dengan kekuatan, keinginan, dan usaha yang keras serta bersungguh-sungguh, dan diwujudkan secara nyata melalui perbuatan, baik menggunakan fungsi tangan dan lisan maupun sikap yang lain. Tujuan utamanya adalah membimbing dan mengantarkan individu kepada perbaikan dan perkembangan eksistensi diri dan kehidupannya, baik hubungannya dengan Tuhannya, diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan masyarakatnya.




BAB VII

AGAMA SEBAGAI LANDASAN DALAM MELAKSANAKAN PSIKOTERAPI DAN BIMBINGAN KONSELING



Istilah psikoterapi mengadung banyak pengertian, istilah psikoterapi bias digunakan dalam bentuk berbagai ilmu empiris seperti psikiatri, psikologi, bimbingan dan konseling, kerja social, pendidikan, dan ilmu agama. Secara etimologi, kata psikoterapi beasal dari kata “psyche’ dan “therapy”. Bahwa psyche atau nafs adalah bagian dari diri manusia dari aspek yang lebih bersifat ruhaniah dan paling tidak lebih banyak menyinggung sisi yang dalam dari eksistensi manusia, dibandingkan fisik atau jasmaniahnya.

A.    Pengertian Psikoterapi

Lewis R. Wolbeng, M.D (1977) dalam buku The Technique of Psychotherapy, menulis,

Psikoterapi adalah perawatan dengan menggunakan alat-alat psikologis terhadap permaslahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja menciptakan hubungan professional dengan pasien, yang bertujuan (1) menghilangkan, mengubah atau menurunkan gejala-gejala yang ada (2) memperantarai (memperbaiki) tingkah laku yang rusak, dan (3) meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan kepribadian yang positif.

Dari pengertian psikoterapi sebagaimana tersebut diatas dapat dijelaskan beberapa hal berikut :

1.      Psikoterapi adalah perawatan

Perawatan psikologis tidak mempedulikan beberapa lama waktu diperlukan atau berapa banyak usaha yang dikeluarkan, psikoterapi tetap merupakan suatu bentuk perawatan.

2.      Menggunakan alat-alat psikologis

Psikoterapi adalah sitilah umum yang mencakup keseluruhan metode dan teknik yang digunakan dalam rentangan spectrum perawatan psikologi.

3.      Permasalahan yang bersumber dari kehidupan emosional

Permasalahan emosional sangat luas dan mempengauhi setiap fase kehidupan manusia.

4.      Penanganan seorang ahli

Dalam mencari ketenangan, individu biasanya mengadukan dirinya pada teman-temannya, orangtua, atau otoritas tertentu. Dalam pengaduan dan hubungan itu, bias saja timbul hambatan kejiwaan, pernyataan diri yang mengurangi kebahagiaan seseorang yaitu dengan adanya kekuatan dalam yang tidak mampu dimengerti atau tidak dapat dikendalikan.

5.      Secara sengaja menciptakan hubungan professional

Hubungan dan bentuk proses penyembuhan psikologis secara sengaja, direncanakan dan diatur oleh ahlinya.

6.      Pasien (client)

Bagi individu yang menerima perawatan psikoterapi, wolberg menyebutnya sebagai “pasien”. Para psikolog lain menyebutnya dengan ‘klien” untuk membedakan dengan pasien dokter medis.

B.     Tujuan Psikoterapi

Urgensi dasar filosofis dalam psikoterapi bukan hanya karena kesukaran klasifikasi, kemajuan penyebab gangguan mental dan fleksibilitas penggunaan teknik terapi, melainkan yang utama adalah maksud dan tujuan psikoterapi. Tujuan psikoterapi yang fundamental ialah mengubah system individu secara efektif melalui pandangan dunia dalamnya. Ke arah mana kepribadian iti hendak diolah dan diubah.

            Adapun tujuan psikoterapi dapat dikemukakan sebagai berikut :

1.      Menghilangkan atau mengubah gejala penyakit mental

a.       Menghilangkan Gejala (symptoms) yang ada

b.      Mengubah gejala yang ada

c.       Menurunkan gejala yang ada

2.      Memperantarai (perbaikan) tingkah laku yang rusak

3.      Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif.

C.    Bentuk-bentuk Terapi

Dalam psikologi, dikenal adanya tiga fungsi kejiwaan, yaitu

1.      Fungsi kognitif yang digunakan untuk mengenal lingkungan dan diri sendiri seperti kecerdasan, ingatan, fantasi, pengamatan, dan pengindraan

2.      Fungsi finalis terdiri dari komponen efektif (perasaan) dan konatif (psikomotorik/niat tindak.motivasi).

3.      Fungsi motorik yang digunakan untuk melaksanakan tingkah laku yang berupa perbuatan dan gerakan jasmaniah.

Wolberg membagi tiga macam tipe perawatan, yaitu sebagai berikut.

1)      Supportive Therapy (Penyembuhan Suportif)

2)      Reducativie Therapy (penyembuhan Reedukatif)

3)      Reconstructive Therapy (Penyembuhan Rekonstruktif)

D.    Psikoterapi Agama

Agama merupakan pedoman hidup manusia (way of life). Karena sebagai pedoman hidup, agama dengan demikian menjadi petunjuk dalam kehidupan manusia. Agama juga berarti kehidupan “dunia-dalam” seseorang tentang ketuhanan disertai keimanan dan kepribadian dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat.

Apabila agama dianalisis kedalam aspek-aspeknya dan dihubungkan dengan kejiwaan manusia, maka akan lebih jelas lagi bahwa agama mengenai manusia secara keseluruan.

            Berbagai pandangan Hidup Manusia

Jika kita mempelajari literature psikoterapi Barat, ada tiga macam dasar pandangan falsafah mengenai hakikat manusia, yaitu sebagai berikut.

a.       Pandangan yang menganggap hakikat manusia sebagai makhluk biologis belaka

b.      Pandangan yang menganggap hakikat manusia sebagai makluk biologis yang mempunyai energy psikis

c.       Pandangan yang menganggap hakikat manusia sebagai adanya.



Manusia adalah makhluk yang mencari nikmat untuk menghilangkan disharmoni jasmaniahnya merupakan kenyataan sejak nabi Adam dan Hawa diciptakan. Hakikat sebagai makhluk biologis yang berdarah daging memang suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah. Manusia adalah makhluk social psikologis dan makhluk filosofis ruhaniah.